Kesalahan Kalibrasi Timbangan yang Sering Menyebabkan Temuan Audit ISO
Pt-sidik.com – Timbangan menjadi salah satu alat ukur yang sangat penting dalam berbagai kegiatan industri. Mulai dari penimbangan bahan baku, formulasi produk, proses produksi, quality control, hingga pemeriksaan produk akhir, hasil pengukuran timbangan dapat memengaruhi keputusan operasional. Karena itu, pengelolaan dan kalibrasi timbangan perlu dilakukan secara konsisten, terutama bagi perusahaan yang menerapkan sistem manajemen ISO.
Saat audit ISO berlangsung, masalah pada alat ukur tidak selalu muncul karena timbangan rusak atau menunjukkan angka yang salah. Temuan juga dapat berkaitan dengan bagaimana perusahaan mengendalikan alat ukur tersebut. Ada beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi dan dapat membuat dokumentasi pengendalian timbangan menjadi kurang meyakinkan di hadapan auditor.
1. Kalibrasi Hanya Dilakukan Saat Alat Bermasalah
Salah satu kesalahan yang masih sering terjadi adalah menganggap kalibrasi hanya diperlukan ketika timbangan sudah menunjukkan hasil yang tidak sesuai. Padahal, perubahan karakteristik alat ukur dapat terjadi seiring pemakaian, kondisi lingkungan, beban kerja, maupun faktor lainnya.
Kalibrasi sebaiknya menjadi bagian dari program pengendalian alat ukur perusahaan. Dengan melakukan kalibrasi secara berkala sesuai dasar penentuan interval yang ditetapkan, perusahaan dapat memiliki data untuk memantau kondisi pengukuran dari waktu ke waktu.
2. Sertifikat Ada, Tetapi Tidak Ditinjau
Memiliki sertifikat kalibrasi saja belum tentu cukup. Data pada sertifikat sebaiknya ditinjau untuk mengetahui hasil pengukuran, penyimpangan atau koreksi, ketidakpastian pengukuran, serta informasi lain yang relevan.
Hasil kalibrasi juga perlu dibandingkan dengan persyaratan penggunaan timbangan. Jika ditemukan hasil yang tidak sesuai, perusahaan perlu memiliki mekanisme tindak lanjut, misalnya evaluasi penggunaan alat, adjustment, perbaikan, atau penggantian alat jika diperlukan.
3. Tidak Memperhatikan Ketertelusuran
Kalibrasi membutuhkan standar acuan yang memiliki ketertelusuran pengukuran. Karena itu, memilih laboratorium kalibrasi yang kompeten menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian alat ukur.
Penggunaan laboratorium yang terakreditasi KAN berdasarkan SNI ISO/IEC 17025 dapat memberikan dasar yang lebih kuat untuk menunjukkan bahwa proses kalibrasi dilakukan dalam sistem kompetensi laboratorium yang telah dinilai sesuai ruang lingkup akreditasinya.
4. Identitas dan Status Kalibrasi Tidak Jelas
Kesalahan lain yang terlihat sederhana tetapi dapat menjadi masalah saat audit adalah identitas alat yang tidak konsisten. Nomor identifikasi pada timbangan, daftar induk alat, sertifikat kalibrasi, dan rekaman internal sebaiknya dapat ditelusuri satu sama lain.
Status kalibrasi juga perlu mudah diketahui. Perusahaan dapat menggunakan label atau sistem identifikasi internal yang menunjukkan informasi seperti tanggal kalibrasi dan jadwal kalibrasi berikutnya sesuai prosedur yang diterapkan.
5. Interval Kalibrasi Ditentukan Tanpa Dasar yang Jelas
Menentukan interval kalibrasi hanya berdasarkan kebiasaan, misalnya selalu satu tahun untuk semua alat, belum tentu menjadi pendekatan yang paling tepat. Interval dapat dipertimbangkan berdasarkan rekomendasi produsen, metode penggunaan, frekuensi pemakaian, kondisi lingkungan, stabilitas alat, hasil kalibrasi sebelumnya, regulasi, serta tingkat risiko pengukuran.
Data historis hasil kalibrasi dapat membantu perusahaan melakukan evaluasi apakah interval yang digunakan masih sesuai atau perlu disesuaikan.
6. Tidak Ada Evaluasi Ketika Hasil Kalibrasi Tidak Sesuai
Ini menjadi bagian yang cukup penting. Jika hasil kalibrasi menunjukkan penyimpangan yang tidak memenuhi persyaratan penggunaan, perusahaan perlu menentukan tindakan terhadap alat dan hasil pengukuran yang sebelumnya dihasilkan alat tersebut.
Dengan adanya prosedur evaluasi yang jelas, perusahaan tidak hanya memiliki sertifikat, tetapi juga menunjukkan bahwa hasil kalibrasi benar-benar digunakan dalam proses pengendalian alat ukur.
Bagi perusahaan di Bandung maupun wilayah lain seperti Jakarta, Bekasi, Karawang, Cikarang, Tangerang, Bogor, hingga luar Jawa, jasa kalibrasi timbangan terakreditasi KAN dapat menjadi salah satu bagian dari program pengendalian peralatan ukur. Pemilihan layanan laboratorium atau on-site dapat disesuaikan dengan jenis timbangan dan kebutuhan operasional.
PT SIDIK Bandung menyediakan layanan kalibrasi alat ukur dengan penerapan SNI ISO/IEC 17025 dan akreditasi KAN sesuai ruang lingkup yang tersedia. Dengan pengelolaan kalibrasi yang baik, perusahaan dapat lebih mudah menjaga rekaman alat ukur, mengevaluasi hasil pengukuran, dan menyiapkan bukti objektif untuk mendukung sistem manajemen mutu.
Jadi, yang perlu diperhatikan bukan hanya “apakah timbangan sudah dikalibrasi?”, tetapi juga bagaimana proses kalibrasi, hasilnya ditinjau, ketertelusurannya dijaga, dan tindak lanjutnya dilakukan. Pengendalian yang lengkap inilah yang membantu perusahaan mengurangi risiko masalah dokumentasi maupun temuan terkait alat ukur saat audit ISO.
